When I imagine as a Boko's King
Pertama, mari kita lihat dari sebuah wahana antariksa yang melayang diatas istana saya waktu itu. Dulu saya menemukan tempat ini berdasar inspirasi sebagai berita dari langit. Lihatlah baik-baik, Di utara istana saya ini ada candi Prambanan dan Plaosan, dibarat ada candi kalasan.
Ke dua, marilah kita coba lihat lebih dekat lagi, bagian-bagian reruntuhan istana saya mulai nampak batu-batunya. Dulu bangunan yang berdiri diatasnya sangat indah dan kokoh, saya bangga dengan istana saya itu. Ketika itu saya tidak terlalu mengukur berapa luasnya, tapi orang sekarang menyebutnya 16 hektar.
Kalau anda mau masuk ketempat saya, anda harus melewati tiga pintu gerbang yang terbuat dari batu andesit hitam dan sedikit batu kapur yang agak keputihan. Jangan berpikir tidak ada penjaganya, di tiap gerbang anda akan diperiksa dan ditanya apa keperluannya oleh para penjaga-penjaga yang sangat kuat. Tentu saja anda boleh masuk karena saya mengizinkan anda masuk seperti yang sekarang ini. Kalau dulu anda hanya ditanya oleh para penjaga, sekarang anda harus membayar dengan uang. Itu semua diluar sepengetahuan saya, karena saya dulu sangat familiar dan ramah.
Di altar depan setelah masuk gate 1, anda akan melihat puing-puing reruntuhan padahal di zaman saya dulu tempat itu adalah candi pengawal, ada di sisi kiri dan kanan. Sayang sekarang tinggal batu-batu berserakan dan batus bawah saja. Keadaan yang sama juga terlihat setelah masuk melalui gate 2.Saya sedih melihatnya.
Marilah sekarang anda saya ajak masuk melewati gate 3, disebelah utara atau kiri dari tempat kita masuk dulu ada candi yang oleh orang zaman anda kini disebut candi perabuan. Sayang, sekarang sudah runtuh tinggal menyisakan sumuran kolam ditengah bangunan itu. Saya tidak tahu kemana batu-batu bangunan itu hilang. Saya agak terhibur karena sekarang ada renovasi di bangunan iru. Mereka menatah, menyusun dengan hati-hati mengikuti alur bangunan aslinya.


Gambar kiri atas ini menunjukkan sisa candi pembakaran yang telah runtuh, tapi sekarang seperti nampak pada gambar kanan atas tempat ini telah mulai direnovasi dan itu gambar bapak Sarmin sedang menyusun dan membersihkan batu-batu tempat pintu masuk candi pembakaran.
Menurut tuan pastilah tempat ini kosong belaka seperti tanah lapang, tetapi sesungguhnya tidak. Tempat ini penuh kesibukan, para bhiksu berlalu-lalang mengatur urusannya, para abdi dalem berjaga dan menunggu perintah dari saya dengan setia dan para petugas sandi datang silih berganti memberikan laporan kepada para pemimpin praja.
Jika penting, mereka saya terima di pendapa dan saya mendengarkan laporan mereka, saya juga menerima laporan dari para pemimpin keagamaan mengenai urusan-urusan mereka dan jika itu barkaitan dengan pembakaran jenazah saya juga selalu bertanya kepada mereka dengan detil.
Didekat papan penunjuk arah itu tuan dapat melihat batur petilasan pendapa kami itu. Melihat itu rasanya saya ingin duduk kembali di dampar kumalasa yang ada disitu, tetapi itu sekarang dimana saya tidak tahu. Dulu para dahyang selalu membersihkan pagi dan sore, mereka menghormatinya seperti mereka menghormati saya. Semua tinggal kenangan tetapi saya berharap banyak pada tuan agar suatu ketika dapat menemukan kembali tempat duduk saya itu.
Inilah tempat biasa kami bertemu untuk membicarakan keadaan para kawula Keraton Boko. Tinggal batur batu dan umpak ditengah pendapa sebagai cagak tiang pendapa. Orang sekarang tidak tahu fungssi sesungguhnya dari pendapa kami ini.
Kearah selatan dan tenggara dari pendapa ini sekarang tampak tanah luas dengan reruntuntuhan disana-sini, itulah tempat kami dulu tinggal,kini tak terbekas. Memang masa itu masih di abad 8 atau 9, sekarang tuan ada diabad 21. Selesih waktu 12 abad atau 1200 tahun telah menghilangkan sebagian besar tempat kami.
Marilah sekarang kita ke Keputren, lihatlah bagaimana kami menempatkan para puteri Keraton ditempat yang terlindung dan bernuansa indah. Kita turun melalui gerbang selatan menyusuri tembok batu kearah timur. Saya sedih melihat reruntuhan masih tersebar diberbagai tempat dan belum bisa direkontruksi, banyak pula batuan dan hiasan yang hilang.
Itu adalah pintu gerbang selatan dimana kita tadi pergi keluar, reruntuhan seperti yang saya ceritakan tadi bisa anda lihat sendiri. Saya membayangkan betapa sulitnya membangun kembali semua ini. Sebagai penguasa di masa itu, mudah bagi saya untuk mendapatkan ratusan orang yang mau bekerja untuk saya, demi kejayaan apa yang kami yakini.Dibanding dengan zaman tuan kini, pekerja yang merestorasi bekas istana saya cuma tak lebih dari 30 orang.
Dulu para wanita jika memandang keraton saya dari arah tenggara persis seperti yang tuan lihat sekarang, gagah, anggun, berwibawa. Para puteri terlindung dengan kokoh disuatu tempat yang tak terjamah dari sisi barat dan utara, karena para penjaga ada disetiap tempat strategis dan disebelah timur tenggara ada benteng alam pegunungan sewu yang sangat indah sekaligus amat kokoh dan diawasi oleh para pengawal yang tidak pernah lengah.
Tuan, tuan sebagai tamu saya di kerajaan ini tentu sangat sulit membayangkan kehidupan para puteri kami. Tidak ada handphone, tidak ada TV dan tidak ada radio. Untuk itu kami membuatkan taman dan kolam sebagai tempat menghibur diri. Taman pemandian berlatar belakang pegunungan sewu tentulah amat indah dan menenteramkan hati. Di tempat ini hanya rasa aman dan bahagia yang ada. Di sebelah kanan itulah tempat para puteri tinggal. Tempatnya kami buat dari batu andesit yang kokoh, yang sebelah selatan lebih luas dari pada yang sebelah utara. Saya heran mengapa ada pohon tumbuh disitu,padahal dulu tempat itu adalah rumah para puteri kami.
Sekarang tuan mau saya ajak masuk ke kolam pemandian, yang disebelah kanan itu adalah gambaran kerajan jika dipandang dari tempat keputren. Reruntuhan masih berserakan dan sulit diidentifikasi. Dulu para puteri kami bercengkerama disitu, bermain Dakon, boneka dan berpantun dengan para abdi. Kolam pemandian tak jauh dari situ.
Jejak sisa bebatuan dan kolam masih bisa ditemui disini. Pemandian ini dikelilingi tembok batu yang berpintu gerbang disebelah utara, selatan, barat dan timur tentunya. Tapi karena tembok timur telah tak berbekas pintunya juga sudah tidak ada.
Tuan, dulu tempat itu adalah mata air yang airnya mengalir bening dan turun ke lembah ngarai disisi selatan dan timur dari bangunan kami ini. Bahkan air juga tertumpah dari sebelah atas melalui susunan batuan, tuan masih bisa melihat bekas itu walaupun sudah 1200 tahun berlalu.
Kolam pemandian ada dua yaitu kolam selatan dan kolam utara dibatasi tembok batu tebal. Sayang saya sudah tidak bisa menunjukkan batas tembok untuk kolam yang utara, tapi tuan bisa membayangkan sendiri alangkah segarnya bermain air di tempat ini.
Tuan, marilah sekarang kita melajutkan perjalanan kita mengelilingi istana kami disebelah utara. Saya menyarankan agar tuan membayangkan diri sebagai seorang peneliti benda-benda kuno agar tuan dapat melihat gambaran yang memuaskan tentang istana kami ini.
Ini adalah pintu pringgitan yang menghubungkan kolam utara dan kolam selatan yang terletak pada pembatas tembok istana utama dengan tembok batu kolam. Sedang gambar yang satunya adalah melukiskan tebalnya tembok batu itu.
Tumpukan hiasan candi yang belum bisa terpasang Ini adalah kolam pemandiam utara
Pendapa dilihat dari sisi utara Paseban tempat menghadap penguasa
Tuan, kini perjalanan kita sudah hampir berakhir, sekarang marilah kita melihat bagaimana dulu saya memandang candi Prambanan dari sisi utara dari istana saya ini. Perjalanan sedikit naik ke bukit dan tuan akan melihat suatu ngarai atau lembah tempat sungai opak mengalir dan candi Prambanan itu sendiri tentunya.
Itulah candi Prambanan, tuan. Di zaman saya dulu belum ada atap rumah seperti nampak di ngarai itu, semua nampak pohon menghijau berlatar belakang gunung Merapi. Di utaranya nampak candi Plaosan.
Tuan, silahkan tuan melanjutkan perjalan tuan. Saya hanya bisa mengantar sampai disini. Kalau tuan ingin keluar fdari istana ini berjalanlah turun ke arah barat dan kembali melalui gate yang tadi tuan masuk. Para pengawal saya akan menemani tuan sampai ujung barat daerah ini. Disana sekarang ada tempat bumi perkemahan dimana orang bisa mendirikan tenda-tenda untuk bermalam sambil menikmati keindahan istana ini.
Akhirnya saya berjalan sendiri menuju arah keluar dan saya bertemu dengan beberapa pengunjung yang sedang duduk beristirahat sambil menikmati pemandangan yang indah dan birunya langit yang menawan. Dalam hati saya berkata memang ini tempat yang indah dan menawan. Alangkah pintarnya orang yang membangun istana di tempat ini.
Catatan:
Situs Boko memang belum memberikan kejelasan sebagai komplek bangunan apa, karena memang situsnya menggambarkan bukan sekedar candi, tapi juga bangunan Kerajaan atau setidak - tidaknya semacam Mansion jaman abad 9 M. Disitu ada tempat pembakaran jenasah, ada pintu gerbang layaknya masuk suatu komplek, ada paseban tempat pertemuan bahkan Keputren tempat para Puteri-puteri tinggal dengan kolam renangnya.
Kali ini saya hanya membayangkan alangkah pintarnya Boko memilih tempat yang amat indah. Dengan berdiri pada posisi foto ini Boko bisa memandang lanscape Yogyakarta yang membentang di kaki Gunung Merapi. Van Boeckholzt sendiri yang menemukan reruntuhan ini pada tahun 1790 mestinya juga tercengang melihat keindahan pemandangan ini.
Bukit Boko merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu, (Pegunungan Sewu adalah nama untuk deretan pegunungan yang terbentang memanjang di sepanjang pantai selatan D.I Yogyakarta, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah, hingga Kabupaten Tulungagung di Jawa Timur. Deretan pegunungan Sewu terbentuk karena pengangkatan dasar laut ribuan tahun silam. Batuan kapur menjadi ciri khas pegunungan ini.) yang membentang dari selatan Yogyakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton.*)

In : History, legend of

